Minggu, 15 April 2012

MASALAH POKOK PEREKONOMIAN INDONESIA

A. Pengangguran
Pengangguran adalah orang yang masuk dalam angkatan kerja (15 sampai 64 tahun) yang sedang mencari pekerjaan dan belum mendapatkannya. Orang yang tidak sedang mencari kerja contohnya seperti ibu rumah tangga, siswa sekolan smp, sma, mahasiswa perguruan tinggi, dan lain sebagainya yang karena sesuatu hal tidak/belum membutuhkan pekerjaan.


Menurut jumlah jam kerja atau lama waktu bekerja, pengangguran dapat dibedakan menjadi :
1. Pengangguran terbuka adalah orang yang termasuk angkatan kerja, tetapi tidak bekerja dan sedang mencari pekerjaan.
2. Setengah menganggur adalah pekerja yang hanya bekerja di bawah jam normal. Mereka masih diklasifikasikan lagi seperti berikut ini:
  • Setengah menganggur terpaksa. Pengangguran jenis ini adalah mereka yang bekerja kurang  dari 35 jam seminggu karena sebab-sebab di luar kemauannya. Upah yang mereka dapatkan juga lebih rendah dari yang diharapkan.
  • Setengah menganggur sukarela. Kategori pengangguran jenis ini adalah mereka yang memilih menganggur daripada menerima pekerjaan yang dirasa tidak sesuai dengan pendidikan atau dengan upah yang lebih rendah dari yang diharapkan.

 Menurut sebab-sebab terjadinya pengangguran ,dibedakan menjadi :
  • Pengangguran konjunktural atau siklikal. Pengangguran ini disebabkan adanya gelombang konjunktur atau siklus ekonomi yang tidak menentu. Saat perekonomian mengalami kelesuan atau kemunduran, permintaan masyarakat menurun, barang dan jasa tidak laku sehingga produksi harus dikurangi. Pengurangan produksi menyebabkan banyak tenaga kerja yang tidak terpakai dan akhirnya menganggur. Mereka inilah yang termasuk ke dalam pengangguran konjunktural.

  • Pengangguran struktural. Perubahan struktur dan kegiatan ekonomi sebagai akibat perkembangan ekonomi dapat menimbulkan masalah pengangguran. Misalnya saja perkembangan perekonomian dalam jangka panjang biasanya akan meningkatkan peran sektor industri besar dan menggusur peran industri kecil. Tenaga kerja dalam industri kecil menjadi tidak terpakai dan menganggur. Pengangguran inilah yang dinamakan pengangguran struktural. Sebab lain adalah penggunaan teknologi yang dapat menggantikan peran tenaga kerja manusia.
  • Pengangguran musiman. Pengangguran musiman banyak terjadi pada sektor pertanian yang produktivitasnya banyak dipengaruhi musim. Saat musim tanam dan musim panen pekerjaan di sektor ini sangat padat. Namun, masa selang antara musim tanam dan musim panen mereka tidak mempunyai pekerjaan.
  • Pengangguran friksional. Pengangguran friksional terjadi karena adanya perpindahan atau peralihan dari satu sektor ke sektor lain atau dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain. Misalnya, perpindahan dari sektor pertanian ke sektor industri. Tenaga kerja yang keluar dari satu pekerjaan dan belum mendapatkan pekerjaan baru juga termasuk dalam pengangguran jenis ini.
B. Inflasi
Inflasi merupakan kecenderungan kenaikan harga barang dan jasa secara umum yang berlangsung secara terus-menerus akibat tidak seimbangnya arus barang dan arus uang.
Dari hal tersebut kita dapat melihat kondisi suatu negara yang sedang mengalami inflasi, yaitu:
1. Harga barang pada umumnya akan naik terus-menerus.
2. Jumlah uang yang beredar melebihi kebutuhan.
3. Nilai uang mengalami penurunan.


Timbulnya Inflasi dapat dilihat dari :
1. Berdasarkan keparahan inflasi
- Inflasi ringan, dibawah 10% setahun
- Inflasi sedang, antara 10% - 30% setahun
- Inflasi berat, 30% - 100% setahun
- Hiperinflasi di atas 100% setahun

2. Berdasarkan timbulnya inflasi
- Inflasi yang berasal dari dalam negeri (domestic inflation), inflasi ini timbul karena defisit anggaran belanja negara dan gagalnya pasar yang berakibat harga kebutuhan pokok menjadi mahal.
- Inflasi yang berasal dari luar negeri (imported inflation), terjadi karena kenaikan harga barang di negara lain, biaya produksi barang luar negeri tinggi, kenaikan impor tarif baran.

3. Berdasarkan sebab-sebab timbulnya inflasi, dapat digolongkan:
a. Tarikan permintaan (demand pull inflation).
Inflasi ini terjadi karena permintaan agregat masyarakat akan berbagai macam barang terus meningkat, misalnya:
- Bertambahnya pengeluaran pemerintah yang dibiayai dengan pencetakan uang baru
- Bertambahnya pengeluaran investasi swasta karena kemudahan kredit bank
b. Desakan biaya (cost push inflation)
Inflasi ini diakibatkan oleh kenaikan ongkos produksi, biasanya diawali dengan:
- Kenaikan biaya produksi, seperti kenaikan upah, kenaikan harga bahan modal.
- Berkurangnya jumlah penawaran.
- Naiknya harga barang yang dibarengi dengan turunnya jumlah produksi.

Cara Mengatasi Inflasi
Secara teoritis untuk mengatasi inflasi relatif mudah, yaitu dengan cara mengatasi pokok pangkalnya, mengurangi jumlah uang yang beredar.
Berikut ini kebijakan yang diharapkan dapat mengatasi inflasi:
1. Kebijakan Moneter, segala kebijakan pemerintah di bidang moneter dengan tujuan menjaga kestabilan moneter untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat.
Kebijakan ini meliputi:
  • Politik diskonto, dengan mengurangi jumlah uang yang beredar dengan cara menaikan suku bunga bank, hal ini diharapkan permintaan kredit akan berkurang.
  • Operasi pasar terbuka, mengurangi jumlah uang yang beredar dengan cara menjual SBI
  • Menaikan cadangan kas, sehingga uang yang diedarkan oleh bank umum menjadi berkurang
  • Kredit selektif, politik bank sentral untuk mengurangi jumlah uang yang beredar dengan cara memperketat pemberian kredit
  • Politik sanering, ini dilakukan bila sudah terjadi hiper inflasi, ini pernah dilakukan BI pada tanggal 13 Desember 1965 yang melakukan pemotongan uang dari Rp.1.000 menjadi Rp.1

2. Kebijakan Fiskal, dapat dilakukan dengan cara:
  • Menaikkan tarif pajak, diharapkan masyarakat akan menyetor uang lebih banyak kepada pemerintah sebagai pembayaran pajak, sehingga dapat mengurangi jumlah uang yang beredar.
  • Mengatur penerimaan dan pengeluaran pemerintah
  • Mengadakan pinjaman pemerintah, misalnya pemerintah memotong gaji pegawai negeri 10% untuk ditabung, ini terjadi pada masa orde lama.

3. Kebijakan Non Moneter, dapat dilakukan melalui:
  • Menaikan hasil produksi, Pemerintah memberikan subsidi kepada industri untuk lebih produktif dan menghasilkan output yang lebih banyak, sehingga harga akan menjadi turun.
  • Kebijakan upah, pemerintah menghimbau kepada serikat buruh untuk tidak meminta kenaikan upah disaat sedang inflasi.
  • Pengawasan harga, kebijakan pemerintah dengan menentukan harga maksimum bagi barang-barang tertentu.

Sumber: 

0 komentar:

Posting Komentar