Minggu, 05 April 2015

Tugas Kelompok "Pelaporan Keuangan Dan Perubahan Harga"

PELAPORAN KEUANGAN
DAN PERUBAHAN HARGA



KELOMPOK :
Nurbayina Aisiah                   (25211340)
Putri Oktaviani                       (25211658)
Putri Rahmayeni                     (25211662)
Qonitah                                    (27211871)
                          
       KELAS : 4EB15

Fakultas Ekonomi
Universitas Gunadarma


DEFINISI PERUBAHAN HARGA
            Sebelum memahami istilah perubahan harga (changing prices), kita harus membedakan antara pengerakan harga umum dan pengerakan harga sepsifik, yang keduanya temasuk dalam istilah perubahan harga itu. Suatu perubahan harga umum terjadi apabila secara rata-rata harga seluruh barang dan jasa dalam suatu perekonomian mengalami perubahan. Lalu, di sisi lain Perubahan  harga spesifik mengacu pada perubahan dalam harga barang atau jasa tertentu yang disebabkan oleh perubahan dalam permintaan dan penawaran.
Mengapa Laporan Keuangan Memiliki Potensi Untuk Menyesatkan Selama Periode Perubahan Harga ?
            Selama periode inflasi, nilai aktiva yang dicatat sebesar biaya akusisi  awalnya jarang mencerminkan nilai terkininya (yang lebih tinggi). Nilai aktiva yang dinyatakan lebih rendah menghasilkan beban yang dinilai lebih rendah dan laba yang dinilai lebih tinggi. Dari sudut pandang manajemen,ketidak-akuratan pengukuran ini mendistorsi (1) proyeksi keuangan yang didasarkan pada data seri  waktu historis, (2) anggaran yang menjadi dasar pengukuran kinerja dan (3) data kinerja yang tidak mengisolasi pengaruh inflasi yang tidak dapat dikendalikan. Laba yang dinilai lebih pada gilirannya akan menyebabkan :
·         Kenaikan dalam proporsi pajak
·         Permintaan deviden lebih banyak dari pemegang saham
·         Permintaan gaji dan upah yang lebih tinggi dari para pekerja
·         Tindakan yang merugikan dari negara tuan rumah (seperti pengenaan pajak keuntungan yang sangat besar)

Jenis Penyesuaian Inflasi
            Setiap jenis perubahan harga memiliki pengaruh yang berbeda terhadap ukuran-ukuran posisi keuangan dan kinerja operasi suatu perusahaan yang ditimbulkan adanya tujuan-tujuan berbeda yang tersembunyi.
Penyesuaian Tingkat Harga Umum
            Jumlah mata uang yang disesuaikan terhadap perubahan tingkat harga umum ( daya beli ) disebut sebagai mata uang konstan biaya historis atau ekuivalen daya beli umum. Jumlah mata uang yang belum disesuaikan sedemikian rupa disebut juga sebagai jumlah nominal. Jumlah nominal harus disesuaikan untuk perubahan-perubahan dalam daya beli umum uang agar dapat ditandingkan  secara tepat dengan transaksi kini.
Penggunaan Indeks Harga
Angka indeks harga digunakan unutk mentranslasikaan jumlah uang yang dibayarkan selama periode terdahulu menjadi ekuivalen daya beli pada akhir periode (yaitu daya beli konstan biaya historis ).
Objek Penyesuaian Tingkat Harga Umum
Secara tradisional, laba (yaitu kekayaan yang dapat digunakan) merupakan bagian dari kekayaan perusahaan (yaitu aktiva bersih) yang dapat ditarik oleh perusahaan selama suatu periode akuntansi tanpa mengarungi kekayaannya hingga berada di bawah posisi awal. Dengan mengasumsikan tidak adanya tambahan investasi atau penarikan oleh pemilik dalam periode tersebut, jika aktiva bersih awal suatu perusahaan adalah sebesar £30.000 dan aktiva bersih akhir meningkat menjadi £45.000 yang disebabkan oleh operasi yang menguntungkan, labanya akan menjadi £15.000. Jika perusahaan tersebut membayarkan dividen sebesar £15.000, kekayaan perusahaan pada akhir periode akan sama persis dengan kekayaan awal periode. Dengan demikian, akuntansi konvensional mengukur laba sebagai jumlah maksimum yang dapat ditarik dari perusahaan tanpa mengurangi jumlah uang yang menjadi modal awalnya.
Jika kita tidak dapat mengasumsikan harga yang stabil, ukuran laba yang konvensional mungkin tidak dapat mengukur kekayaan perusahaan yang dapat digunakan secara akurat. Misalkan tingkat harga umum meningkat sebesar 21% selama satu tahun. Untuk mengimbangi inflasi, suatu perusahaan yang memulai tahun dengan uang $100 akan menginginkan nilai investasi awalnya tumbuh menjadi paling tidak $121, karena jumlah inilah yang diperlukan pada akhir tahun untuk membeli apa-apa yang dapat terbeli dengan uang sebesar $100 pada awal periode. Misalkan, dengan menggunakan akuntansi konvensional, perusahaan memperoleh penghasilan sebesar $50 (setelah pajak). Menarik dana sebesar $50 akan mengurangi kekayaan nominal akhir periode perusahaan kembali pada jumlah sebesar S100, lebih sedikit daripada yang diperlukan agar tetap sama dengan inflasi ($121). Model daya beli konstan biaya historis menganggap selisih perbedaan ini dengan mengukur laba sehingga perusahaan mampu membayarkan seluruh labanya sebagai dividen, sementara memiliki daya beli pada akhir periode yang sama besarnya dengan awal periode.

PENYESUAIAN BIAYA KINI
            Model biaya kini berbeda dengan akuntansi yang konvensional dalam dua aspek utama. Pertama, aktiva tetap dinilai berdasarkan biaya kini dan bukan biaya historis. Kedua, laba adalah jumlah sumber daya yang dapat didistribusikan oleh perusahaan dalam suatu periode (tanpa memperhitungkan komponen pajak), namun tetap dapat mempertahankan kapasitas produktif atau modal fisik perusahaan. Satu cara untuk mempertahankan modal adalah dengan menyesuaikan posisi aktiva bersih awal perusahaan (yang menggunakan indeks harga spesifik yang tepat atau penentuan harga langsung) untuk mencerminkan perubahan dalam ekuivalen biaya kini aktiva selama periode berjalan.


SUDUT PANDANG INTERNASIONAL TERHADAP AKUNTANSI INFLASI

            Beberapa negara telah mencoba metode akuntansi inflasi yang berbeda-beda. Praktik aktual juga mencerminkan pertimbangan pragmatis seperti parahnya laju inflasi nasional dan pandangan yang pihak-pihak yang secara langsung dipengaruhi oleh angka-angka akuntansi inflasi. Mengamati beberapa metode akuntansi inflasi yang berbeda sangat bermanfaat pada saat menilai kondisi paling mutakhir saat ini.

Amerika Serikat

            Pada tahun 1979, FASB mengeluarkan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (Statement of Financial Accounting Standards – SFAS) No. 33. Berjudul “Pelaporan Keuangan dan Perubahan Harga”, pernyataan ini mengharuskan perusahaan-perusahaan AS yang memiliki persediaan dan aktiva tetap (sebelum dikurangi dengan depresiasi) yang bernilai lebih dari $125 juta atau total aktiva lebih dari $1 miliar (setelah dikurangi dengan akumulasi depresiasi), untuk selama 5 tahun mencoba melakukan pengungkapan daya beli konstan biaya historis dan daya beli konstan biaya kini. Pengungkapan ini lebih bersifat melengkapi dan bukan menggantikan biaya historis sebagai kerangka dasar pengukuran dasar untuk laporan keuangan utama.
            Banyak pengguna dan penyusun informasi keuangan yang telah sesuai dengan SFAS No. 33 menemukan bahwa :
(1)   pengungkapan ganda yang diwajibkan oleh FASB membingungkan,
(2)   biaya untuk penyusunan pengungkapan ganda ini terlalu besar, dan
(3)   pengungkapan daya beli konstan biaya historis tidak terlalu bermanfaat bila dibandingkan data biaya kini.
Semenjak itu, FASB telah memutuskan untuk mendorong, tetapi tidak lagi mengharuskan, entitas pelaporan AS untuk mengungkapkan informasi daya beli konstan biaya historis atau daya beli konstan biaya kini. FASB menerbitkan panduan (SFAS 89) untuk membantu perusahaan yang melaporkan pengaruh pernyataan atas harga yang berubah dan menjadi titik awal untuk standar akuntansi inflasi di masa depan.

Inggris

            Komite Standar Akuntansi Inggris (Accounting Standard Committee – ASC) menerbitkan Pernyataan Standar Praktik Akuntansi 16 (Statement of Standard Accounting Practice – SSAP 16), “Akuntansi Biaya Kini’ untuk masa percobaan 3 tahun pada bulan Maret 1980. Meskipun SSAP 16 dibatalkan pada tahun 1988, metodologinya direkomendasikan untuk perusahaan-perusahaan yang secara sukarela melaporkan akun-akun yang disesuaikan terhadap inflasi.
            SSAP 16 berbeda dengan SFAS 33 dalam dua hal utama. Pertama, apabila standar AS mengharuskan akuntansi dolar konstan dan biaya kini, SSAP 16 mengadopsi hanya metode biaya kini untuk pelaporan eksternal. Kedua, apabila penyesuaian inflasi AS berpusat pada laporan laba rugi, laporan biaya kini di Inggris mewajibkan baik laporan laba rugi dan neraca biaya kini, beserta catatan penjelasan. Standar di Inggris memperbolehkan tiga pilihan pelaporan :
1.      Menyajikan akun-akun biaya kini sebagai laporan keuangan dasar dengan akun-akun pelengkap biaya historis.
2.      Menyajikan akun-akun biaya historis sebagai laporan keuangan dasar dengan akun-akun pelengkap biaya kini.
3.      Menyajikan akun-akun biaya kini sebagai satu-satunya akun yang dilengkapi dengan informasi biaya historis yang memadai.

Dalam perlakuan keuntungan dan kerugian terkait dengan pos-pos moneter, FAS 33 mengharuskan pengungkapan terpisah untuk tiap-tiap angka. SSAP 16 mengharuskan dua angka, yang keduanya mencerminkan pengaruh perubahan harga spesifik. Yang pertama, disebut penyesuaian modal kerja moneter (Monetary Working Capital Adjustment – MWCA), mengakui pengaruh perubahan harga khusus terhadap total jumlah modal kerja yang digunakan oleh perusahaan dalam operasinya. Yang kedua, disebut sebagai mekanisme penyesuaian, memungkinkan pengaruh perubahan harga spesifik terhadap aktiva nonmoneter perusahaan (seperti depresiasi, harga pokok penjualan dan modal kerja moneter).

Brazil
Inflasi sering kali merupakan bagian lingkungan usaha yang diterima di Amerika Latin, Eropa Timur, dan Asia Tenggara. Pengalaman Brasil di masa lalu dengan hiperinflasi membuat inisiatif akuntansi inflasi bersifat instruktif.
            Para Analis Keuangan dan para eksekutif keuangan Brasil melakukan penyesuaian akun-akun Brasil atas perubahan harga untuk membantu analisis mereka. Meskipun tidak lagi diwajibkan, akuntansi inflasi yang direkomendasikan ke Brasil mencerminkan dua kelompok pilihan pelaporan Hukum Perusahaan Brasil dan Komisi Pengawas Pasar Modal Brasil. Penyesuaian inflasi yang sesuai dengan hukum perusahaan menyajikan ulang akun-akun aktiva permanen dan ekuitas pemegang saham dengan menggunakan indeks harga yang diakui oleh pemerintah federal untuk mengukur devaluasi mata uang lokal. Aktiva permanen serta akun-akun amortisasi atau deplesi (termasuk setiap provisi kerugian yang terkait). Akun-akun ekuitas pemegang saham terdiri dari modal, cadangan pendapatan, cadangan revaluasi, laba ditahan, dan akun cadangan modal yang digunakan untuk mencatat penyesuaian tiungkat harga terhadap modal. Yang terakhir ini merupakan hasil dari penilaian kembali aktiva tetap terhadap biaya penggantian kini dikurangi dengan provisi untuk depresiasi teknis dan fisik.
            Komisi Pasar Modal Brasil mewajibkan metode akuntansi yang lain untuk perusahaan-perusahaan yang sahamnya diperdagangkan di depan publik. Perusahaan-perusahaan yang tercatat sahamnya harus mengukur ulang seluruh transaksi yang terjadi dlam suatu periode dengan menggunakan mata uang fungsionalnya. Pada akhir periode, indeks tingkat harga umum yang berlaku mengubah unit daya beli umum menjadi unit mata uang lokal nominal.

BADAN STANDAR AKUNTANSI INTERNASIONAL
IASB menyimpulkan bahwa posisi laporan keuangan dan kinerja operasi dalam mata uang lokal menjadi tidak berarti lagi dalam suatu lingkungan yang mengalami hiperinflasi. IAS 29, “Pelaporan Keuangan dalam Perekonomian Hiperinflasi” mewajibkan penyajian ulang informasi laporan keuangan utama. Secara khusus, laporan keuangan suatu perusahaan yang melakukan pelaporan dalam mata uang perekonomian hiperinflasi, apakah didasarkan pada kerangka penilaian biaya historis atau biaya kini, harus disajikan ulang sesuai dengan daya beli konstan pada tanggal neraca. Perusahaan yang melakukan pelaporan juga harus mengungkapkan :
1.      Fakta bahwa penyajian ulang untuk perubahan dalam daya beli unit pengukuran telah dilakukan.
2.      Kerangka dasar penilaian aktiva yang digunakan dalam laporan keuangan utama (penilaian biaya historis atau biaya kini).
3.      Identitas dan tingkat indeks harga pada tanggal neraca, beserta dengan perubahannya selama periode pelaporan.
4.      Keuntungan atau kerugian moneter bersih selama periode tersebut.

ISU-ISU MENGENAI INFLASI
Terdapat 4 isu akuntansi inflasi yang cukup mengganggu:
1.      Apakah dolar konstan atau biaya kini yang lebih baik mengukur pengaruh inflasi,
2.      Melakukan akuntansi terhadap keuntungan dan kerugian inflasi,
3.      Akuntansi inflasi luar negeri,
4.      Menghindari fenomena kejatuhan ganda.

Keuntungan dan Kerugian Inflasi
Keuntungan atau kerugian pos-pos moneter di Amerika Serikat ditentukan dengan menyajikan ulang dalam dolar konstan, saldo awal dan akhir, serta transaksi dalam, seluruh aktiva dan kewajiban moneter (termasuk utang jangka panjang). Angka yang dihasilkan diungkapkan sebagai pos terpisah. Perlakuan ini memandang keuntungan dan kerugian pos-pos moneter sebagai hal yang berbeda dari jenis pendapatan yang lain.
            Di Inggis, keuntungan atau kerugian pos-pos moneter dipisahkan menjadi modal kerja moneter dan mekanisme penyesuaian. Kedua angka tersebut ditentukan melalui perubahan harga khusus. Mekanisme penyesuaian mengindikasikan manfaat (biaya) kepada para pemegang saham yang berasal dari pembiayaan utang selama suatu periode perubahan harga. Angka-angka ini ditambahkan atas (dikurangi dari) laba operasi biaya kini untuk menghasilkan ukuran kemakmuran yang dapat dihapuskan, yang disebut sebagai “Laba Biaya Kini Teratribusi kepada Pemegang Saham.”
Akuntansi untuk Inflasi di Luar Negeri
Amerika Serikat, FASB berupaya untuk membahas masalah inflasi dengan mewajibkan perusahaan pelapor yang besar untuk melakukan eksperimen dengan pengungkapan daya beli konstan biaya historis dan biaya pengungkapan kini. FAS 89, yang mendorong perusahaan untuk memperhitungkan perubahan harga, masih meninggalkan permasalahan yang masih belum terselesaikan dalam dua tingkatan. Pertama, perusahaan mungkin terus mempertahankan nilai aktiva nonmoneter berdasarkan biaya historisnya atau menyajikan ulang berdasarkan ekuivalen biaya kini. Kedua, perusahaan yang memilih untuk menyediakan data biaya kini tambahan atas operasi luar negeri memiliki dua metode pilihan dalam mentranslasikan dan menyajikan ulang akun-akun luar negeri dalam dolar AS.  
Menyajikan ulang baik akun-akun perusahaan luar negeri dan domestik menjadi ekuivalen harga kini dan menghasilkan informasi yang relevan dengan keputusan.Informasi ini memberikan kesempatan kepada investor untuk memperoleh informasi sebanyak mungkin yang menyangkut dividen masa depan. Jauh lebih mudah untuk membandingkan dan mengevaluasi hasil konsolidasi seluruh perusahaan daripada yang dilakukan dewasa ini.
Menghindari Kejatuhan Ganda
Pada saat menyajikan ulang akun-akun luar negeri terhadap inflasi di luar negeri, seseorang harus berhati-hati untuk menghindari apa yang disebuat sebagai kejatuhan ganda. Masalah ini muncul karena inflasi lokal langsung berpengaruh terhadap kurs yang digunakan dalam translasi. Apabila teori ekonomi mengasumsikan bahwa terdapat hubungan terbalik antara laju inflasi internal suatu negara dan nilai eksternal mata uangnya, bukti-bukti menunjukan bahwa hubungan seperti ini jarang sekali bertahan (paling tidak dalam jangka pendek). Dengan demikian, ukuran penyesuaian yang terjadi untuk menghapuskan kejatuhan ganda akan berbeda-beda tergantung pada sejauh mana kurs dan perbedaan inflasi berhubungan secara negatif.
Infasi terhadap harga pokok penjualan atau beban depresiasi dimaksudkan untuk mengurangi besarnya laba “sebagaimana ynag dilaporkan” untuk menghindari penilaian lebih laba bersih. Namun demikian, karena pengaruh hubungan terbalik antara inflasi lokal dan nilai mata uang, perubahan kurs valuta asing di antara laporan keuangan yang berurutan, yang umumnya disebabkan oleh inflasi (setidaknya selama suatu periode), menyebabkan timbulnya sebagian pengaruh inflasi (yaitu penyesuaian translasi mata uang) terhadap hasil operasi perusahaan “sebagaimana yang dilaporkan”. Dengan demikian, untuk menghindari proses penyesuaian terhadap pengaruh inflasi sebanyak dua kali, penyesuaian infalasi harus memperhitungkan kerugian translasi yang sudah tercermin dalam hasil “sebagaimana yang dilaporkan” dari suatu perusahaan.
Contoh akuntansi persediaan berikut ini menunjukkan hubungan antara inflasi dan translasi mata uang luar negeri. Perusahaan dalam contoh ini menggunakan metode penilaian persediaan FIFO dan melakukan translasi persediaan ke dalam dolar dengan menggunakan kurs kini. Dan dapat diasumsikan sebagai berikut:
·         Inflasi negara lokal adalah 20% selama tahun yang baru saja berakhir. Inflasi di AS adalah sebesar 6% selama tahun tersebut.
·         Kurs nilai tukar pembukaan pada tan ggal 1 Januari adalah LC1 = $1,00
·         Kurs nilai tukar penutupan pada tanggal 31 Desember adalah LC1 = $0,88
·         Devaluasi mata uang selama tahun tersebut untuk mempertahankan paritas daya beli adalah 12%.
·         Persediaan dalam mata uang lokal adalah sebesar LC200 pada tanggal 1 Januari dan LC240 pada tanggal 31 Desember.
·         Tidak ada perubahan yang terjadi menyangkut jumlah fisik persediaan selama tahun tersebut.
Nilai dolar ekuivalen persediaan awal dan akhir dihitung sebagai berikut:

Jumlah dalam LC
Kurs Nilai Tukar
Jumlah dalam $
Persediaan FIFO, 1 Januari
200
LC = $1,00
$200
Persediaan FIFO, 31 Desember
240
LC = $0,88
$211

Laba “sebagaimana yang dilaporkan” akan mencerminkan kerugian translasi sebesar $29 (dengan mengasumsikan bahwa mata uang didevaluasi pada akhir tahun), perbedaan yang terjadi dari melakukan translasi persediaan senilai $240 pada tanggal 31 Desember berdasarkan kurs $0,88 dan $1,00.
            Dengan demikian, selama periode perputaran persediaan berikutnya, harga pokok penjualan “sebagaimana yang dilaporkan” menjadi sebesar LC240 dalam mata uang lokal atau $211 dalam dolar.
            Perusahaan tersebut telah mengurangi laba dengan kerugian translasi sebesar $29 dan penyesuaian inflasi harga pokok penjualan sebesar $40 dengan jumlah keseluruhan sebesar $69 atau 34% dari saldo awal persediaan sebesar $200 pada tanggal 1 Januari. Namun demikian inflasi hanyalah sebesar 20%! Kejatuhan gandalah yang menyebabkan hal ini terjadi. Perhitungan dolar memasukkan perhitungan ganda antara kerugian devaluasi mata uang, yang ditimbulkan dari inflasi dan penyesuaian harga pokok penjualan terhadap inflasi, yang menjadi akar penyebab devaluasi mata uang. Penyesuaian inflasi harga pokok penjualandengan metode sajikan ulang-translasikan saja sudah cukup. Penyesuaian ini tidak hanya menghapuskanlaju inflasi AS (sebesar 6%), tetapi juga perbedaan laju inflasi diantara negara lokal sebesar 20% dan di AS sebesar 6% yang menimbulkan devaluasi sebesar 12%. Dan disimpulkan bahwa jika harga pokok penjualan disesuaikan untuk menghapuskan inflasi negara lokal, maka perlu dilakukan penghapusan setiap kerugian translasi yang tercermin dalam laba “sebagaimana yang dilaporkan”.